PENYAKIT PINK EYE PADA SAPI
Penyakit mata pada sapi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang cukup sering ditemukan di peternakan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari cedera pada mata hingga infeksi oleh mikroorganisme patogen. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting dilakukan, karena gangguan pada mata berpotensi menyebabkan penurunan produktivitas bahkan kebutaan pada ternak.
Salah satu penyakit mata yang cukup umum terjadi pada sapi adalah pink eye atau radang mata menular. Penyakit ini dapat menimbulkan kerugian bagi peternak, antara lain berupa penurunan bobot badan sapi, meningkatnya biaya pengobatan, serta menurunnya nilai ekonomi ternak akibat kerusakan pada mata.
Penyakit pink eye disebabkan oleh bakteri Moraxella bovis yang menyerang bagian kornea mata sapi. Infeksi bakteri ini biasanya dipicu oleh faktor lingkungan seperti debu, keberadaan lalat, infeksi virus, atau benda asing yang mengiritasi mata. Kondisi tersebut memudahkan bakteri masuk dan berkembang di jaringan mata.
Lalat wajah (face flies) diketahui berperan sebagai pembawa dan penyebar penyakit pink eye pada sapi, terutama pada kondisi cuaca hangat. Lalat ini sering hinggap di sekitar mata sapi untuk memakan cairan air mata yang kaya protein. Aktivitas tersebut dapat menimbulkan luka kecil pada kornea sehingga menjadi pintu masuk bagi bakteri penyebab infeksi.
Tahapan Perkembangan Pink Eye
Gejala awal penyakit pink eye biasanya ditandai dengan mata sapi yang tampak berair. Ternak juga sering menyipitkan mata dan menjadi lebih sensitif terhadap cahaya. Dalam waktu satu hingga dua hari, biasanya muncul bercak putih kecil pada permukaan kornea.
Apabila tidak segera ditangani, bercak putih tersebut dapat membesar dan berkembang menjadi luka pada kornea. Pada kondisi yang lebih parah, luka dapat semakin dalam sehingga menyebabkan kornea tampak menonjol akibat penumpukan nanah. Infeksi yang berat bahkan dapat menyebabkan bola mata pecah, baik karena kerusakan jaringan maupun akibat benturan ketika sapi yang mengalami gangguan penglihatan menabrak benda di sekitarnya.
Pada banyak kasus, pink eye dapat meninggalkan jaringan parut pada kornea yang menyebabkan penurunan kemampuan penglihatan hingga kebutaan sebagian atau total. Meskipun beberapa kasus dapat sembuh dalam beberapa minggu, bekas luka pada kornea sering kali tetap terlihat. Jika tidak segera ditangani, infeksi berat dapat menyebabkan kerusakan mata permanen.
Penanganan dan Pencegahan
Penanganan pink eye sebaiknya dilakukan sejak tahap awal karena pada fase ini penyakit masih cukup responsif terhadap pengobatan. Terapi umumnya dilakukan dengan pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri. Selain itu, mata sapi perlu dilindungi dari paparan sinar matahari langsung, debu, lalat, maupun faktor lain yang dapat memperparah iritasi.
Pengobatan topikal seperti salep mata, tetes mata, atau semprotan oftalmik biasanya diberikan langsung pada mata sapi. Pengobatan ini sebaiknya dilakukan dua kali sehari agar efektif, karena obat mudah terbawa keluar oleh air mata.
Selain pengobatan, langkah pencegahan juga sangat penting dilakukan. Kebersihan kandang harus dijaga dengan baik untuk mengurangi populasi lalat yang dapat mengganggu ternak. Penggunaan penolak lalat (fly repellent) serta penyemprotan area kandang secara berkala dapat membantu mengendalikan populasi lalat wajah dan mencegah penyebaran penyakit ke ternak lain.
Dengan penanganan yang cepat dan penerapan manajemen kandang yang baik, risiko penyebaran pink eye pada sapi dapat diminimalkan sehingga kesehatan dan produktivitas ternak tetap terjaga. (drh. Yayuk K) (*)
Referensi:
1. Storey’s Guide to Raising Beef Cattle. H.S. Thomas dan B. Black. 2009. Storey Publishing, Versa Press, United States.
2. The Cattle Health Handbook. H.S. Thomas. 2009. Storey Publishing, Versa Press, United States.
3. Sumber Gambar : https://www.vetzone.com.au/article/pink-eye-in-cattle/